Menyibak Sesak pada Rindu

Seperti biasa, blog baru kembali bisa terjamah ketika empunya-nya sedang dirundung kesedihan atau kesepian. Aku sebagai empunya mohon maaf atas segala keanomalian hidup blog satu ini. Namun ia akan selalu hidup di dalam hati, bukan?

Kali ini aku hanya ingin mengurai sedikit ide yang susah payah kugali untuk dapat memahami perasaanku selama ini. Yang terus kucari yaitu apa sebenarnya yang selama ini aku inginkan. Hingga beberapa hari ini kuberanikan diriku untuk mencari. Yang kudapatkan? Mungkin belum bisa dikatakan sebagai jawaban, tetapi aku sudah berjalan, dan aku percaya itu sudah lebih baik.

Di depan layar laptop sudah ada ribuan kebengongan menganga sambil meletakkan mata pada tumpukan lirik lagu-lagu cinta a la  anak muda milik Sheila On 7. Tetep tetes air yang menguap, itu jangan ditanya. Jawabnya sudah tentu "Ya". Sedangkan di depannya kupikir aku dan ia terus tertawa bersama, menceritakan hal-hal paling remeh sedunia hingga cita-cita paling sakral dalam hidupku atau hidupnya. Di depan layar handphone kemudian ada yang berubah dari nyata menjadi maya dan samar. Dari tangan yang bisa digenggang dan senyuman yang bisa cepat menyembuhkan berubah menjadi perasaan yang mudah meletup dan membakar atap rumah hingga habis hangus seluruh perabot isinya. Ada rasa yang menakutkan, mungkin disebabkan karena tidak ada kunci pintu ditanganku. Sebab semuanya sudah berubah, aku memangnya siapa hingga bisa bersikap seenaknya padanya. Ada serentetan tanda tanya yang secara mengerikan terus bergantungan di atapku. Satu persatu saling berjajar dan berusaha mengintimidasi kelemahanku.

Lantas di depan semua orang? Sungguh aku adalah orang yang paling tidak cukup baik dalam hal pencitraan. Inginnya ya sekalian tidak mau peduli pada apa yang mereka pikirkan dan mereka bicarakan. Secukupnya ingin tetap terlihat wajar, hingga berharap semuanya lebih baik segera selesai. Aku selalu merasa ada permainan peran, dimana semuanya secara tanpa sadar bermain begitu saja. Ibarat Sabtu dan Minggu adalah bersamamu, hari Senin yang akan datang dalam beberapa jam lagi itu rasanya seperti trauma. Aku belum tahu esok akan berperan apa.

Pada halaman sebelumnya selama sudah hampir bulat 9 bulan, masih seperti inilah bentuk perasaan yang dipenuhi tanda tanya. Aku belum menemukan kunci yang seharusnya membawaku kepada ruang untuk merebahkan rasa lemah. Apalagi masih kudapati garis tanganku yang belum berubah dan membentuk garis yang tajam. Aku bukan orang yang menganggap sesuatu sangat luar biasa atau mengidolakan sesuatu dengan sangat berlebihan. Semuanya kuberi rata-rata. Seperti mempercayai arti garis tangan, bagiku bukan pada artinya, tapi nilai yang harus kuperbaiki, kuanggap alat untuk introspeksi. 

Beberapa orang yang membaca garis tanganku mengatakan vonis yang sama. Sama seperti perasaanku yang dipenuhi tanda tanya. Yang mereka katakan adalah aku masih belum cukup baik mengatasi keragu-raguan, sedangkan ia yang memiliki garis terhubung denganku justru lebih serius terhadapku.

Bukan garis tangan yang mengetahui siapa sebenarnya aku, tapi diriku sendirilah yang mengenali itu.

*

Aku selamanya tidak akan mengerti apa yang aku cari dan kuingini. Tapi hampir sembilan bulan adalah usia janin yang sudah tak tahan ingin menangis kencang dalam pelukan ibunya. Jika aku adalah ibunya, akupun sudah rindu pada jabang bayiku. Menamai hidup baru dan menikmati saat-saat yang tak lagi sendiri, akupun juga ingin menangis karena perasaan yang tak tertahankan. 

Aku ingin membantunya keluar, tetapi aku belum mau operasi caesar. Sudah saatnya aku mencari tahu rasa sakit sesungguhnya untuk membantumu keluar. Aku harus mencarinya agar aku tahu. Aku harus berjuang untuk semua kebahagiaan itu. 


**


Sembilan bulan, ternyata rasanya sangat sesak memendam rindu dalam-dalam.