Cernak - Mencuci Baju Sendiri - Radar Bojonegoro

Penampakan di rubrik Konan Radar Bojonegoro Minggu

Cuaca dingin di kota Malang membuat saya harus menyesuaikan diri sebulan lebih untuk akhirnya bisa kembali menulis di blog tercinta ini. Belum ada berita dimuat lagi nih (hehe sedih ya). Tapi, saya punya cerita anak yang pernah dimuat pada tahun 2013 di Radar Bojonegoro. Cerita ini lagi-lagi mendapatkan sumber inspirasi dari Ibu. Memang Ibu itu muara segala inspirasi hidup. Tsah. Eits, tapi beneran lo, Ibu banyak memberi pengaruh, pendidikan, dan inspirasi dalam banyak hal.

Selamat membaca cerita anak karya saya sendiri yang dimuat empat tahun silam ini ya! Semoga memberi inspirasi bagi kamu, iya kamu, dan anak/adik/sepupu/keponakan/sahabatmu. 😊😊


Mencuci Baju Sendiri

Setelah naik kelas 5, Ibu meminta Rika untuk mencuci baju sendiri. Rika enggan sekali menerima tugas dari Ibu itu.
Rika membayangkan waktu bermainnya akan berkurang. Nanti tangan Rika juga akan kasar. Kata Ilma, temannya yang sudah mencuci bajunya sendiri karena ibunya bekerja di luar negeri, sabun diterjen membuat tangan menjadi panas dan kasar. Ia juga teringat beberapa iklan di televisi saat seorang ibu mencuci pakaian.
Rika ingin sekali menolak tugas itu. Namun, Rika takut ibu akan marah. Dengan berat hati, sepulang sekolah Rika pergi mencuci baju seragamnya yang sudah tidak dipakai besok.
Dengan muka kusut dan cemberut, Rika merendam bajunya dengan sabun, lalu menyikatnya.
“Wah, anak ayah rajin sekali. Sekarang sudah pandai mencuci baju, ya,” tiba-tiba Ayah datang menyapa Rika.
Ayah tersenyum melihat Rika hanya membalas sapaan Ayah dengan senyum simpul. Ayah tahu, Rika baru pertama kali mencuci baju. Sehingga, Rika masih enggan melakukan pekerjaan tersebut.
“Rika tahu kenapa Ibu menyuruh Rika mencuci baju sendiri?” tanya Ayah.
“Karena Rika sudah kelas 5, Yah,” jawab Rika.
Ayah tersenyum lagi mendengar jawaban dari Rika.
“Rika benar. Karena Rika sudah kelas 5, itu artinya Rika sudah besar. Rika harus bisa mandiri. Nanti Rika tidak akan menyusahkan orang lain lagi,” kata Ayah.
“Tapi teman-teman Rika juga banyak yang belum mencuci baju sendiri, Yah,” ujar Rika masih cemberut.
“Wah, berarti Rika adalah anak Ayah yang hebat! Teman-teman Rika belum bisa mandiri, sedangkan Rika sudah bisa mandiri duluan,” kata Ayah berusaha menghibur Rika. Kemudian Ayah kembali masuk ke dalam rumah.
Rika memikirkan kata-kata ayahnya.
“Ayah benar, paling tidak sekarang Rika belajar untuk mandiri. Apalagi Ibu sedang mengandung. Kalau nanti Rika punya adik baru, pasti Ibu akan sibuk. Rika juga disebut anak yang hebat oleh ayah karena sudah berusaha belajar mandiri,” katanya dalam hati.
“Ah, kenapa harus bersedih. Mencuci baju sendiri juga menyenangkan, kok,” ujarnya.
Ia kemudian bermain gelembung sabun diterjen di tangan, lalu ditiup ke atap kamar mandi. Baju-baju yang sudah dicuci, dibilas dengan air bersih. Kalau hati senang, mencuci baju semakin cepat selesai dan tidak melelahkan. Tangan Rika juga tidak terasa kasar dan panas.
“Hmm, tangan Rika jadi harum setelah cuci-cuci baju,” kata Rika sambil menjemur bajunya.
Akhirnya mulai sekarang Rika bisa membiasakan mencuci baju sendiri dengan perasaan senang.*


(Dimuat di Radar Bojonegoro, 22 September 2013)


Cara Mengirim Cerpen Anak Ke Harian Solopos




Ada yang penasaran cara kirim cernak ke Solopos? Sebelumnya, dua minggu yang lalu cernak saya berjudul Sepatu Kulit dari Ibu dimuat di Solopos. Baiklah, kali ini saya akan sharing mengenai cara mengirim cerpen ke Harian Solopos.

1. Tulis naskah cerita anak yang panjangnya kira-kira 2-3 halaman atau sekitar 500-700 karakter. Tidak panjang-panjang ya, porsi cerita anak seperti apa bisa dipelajari sendiri dengan banyak-banyak membaca cerita yang sudah dimuat media.
2. Format tulisan standar, pakai font Times New Roman 12pt spasi 1,5.
3. Jangan lupa cantumkan data diri di bawah naskah. Data diri meliputi nama, alamat, nomor KTP, nomor NPWP, nomor HP, dan juga nomor rekening.
4. Kirimkan ke alamat pos-el redaksi Solopos : redaksi.minggu@solopos.co.id cc ke redaksi@solopos.co.id dan redaksi@solopos.com
Jangan lupa untuk menyalin data diri di badan pos-el di bawah surat pengantar teman-teman.


Pengalaman pertama saya sih, 2-3 minggu setelah pengiriman, naskah kita akan dimuat oleh Solopos. Waktu yang cukup cepat, ya. Tidak ada konfirmasi pemuatan, ya. Jadi penulis harus proaktif untuk mengecek koran Solopos sendiri. 

Oiya untuk honor akan dikirimkan ke nomor rekening yang sebelumnya sudah dicantumkan itu. Sama juga dengan sebelumnya, tidak ada konfirmasi dari redaktur mengenai pencairan honor. Tapi jangan khawatir, pihak keuangan Solopos sepertinya sangat tertib membayarkan honor kita. Ditunggu saja kira-kira 2 minggu kemudian setelah pemuatan. 

Sekian sharing cara kirim ke redaksi Solopos oleh saya kali ini. Semoga karya teman-teman juga segera menghiasi media-media dan menginspirasi anak-anak dengan bacaan yang asyik dan baik.

Semoga saya juga segera menyusul karya teman-teman untuk dimuat di media-media lainnya. Semangat menebar manfaat! 

Cernak Sepatu Kulit dari Ibu di Solopos




Kali ini saya akan posting cerita saya yang dimuat di Solopos kemarin, Minggu, 5 Maret 2017. Sebelumnya saya mau cerita sedikit, ya. Jadi cernak ini adalah cernak pertama saya di tahun 2017 yang dimuat. Sebelumnya saya pernah mengirimkan beberapa cernak dan dimuat, tapi itu sudah beberapa tahun lalu, 2013. Lama sekali ya saya mati suri dari menulis. Hihi Alhamdulillah akhirnya tergugah untuk menulis lagi. Masih dalam tahap belajar lagi, jadi sangat senang jika diberi kritik atau saran. Semoga posting kali ini dapat menginspirasi, menjadi ibadah, dan menjadi bacaan yang bermanfaat.
Oiya naskah saya ini saya kirimkan ke email penerbit Harian Solopos pada 21 Februari 2017. Kira-kira waktu tunggu hingga dimuat 2-3 minggu ya.
Selamat membaca.


Sepatu Kulit dari Ibu
Oleh : Maula Zahra


Dua hari yang lalu Ibu berkunjung ke rumah nenek. Aliya tidak bisa ikut karena hari itu harus sekolah.
Ibu akan pulang hari ini. Saat di sekolah, Aliya rasanya ingin cepat-cepat pulang. Semalam Ibu menelepon Aliya bahwa akan membawakan oleh-oleh. Aliya sudah tidak sabar.
Sesampainya di rumah Aliya segera memeluk Ibu. Ibu sedang membuat gethuk dari singkong yang dibawakan nenek.
“Oleh-oleh untukmu sudah Ibu letakkan di meja belajarmu, Al,” kata Ibu. Ibu selalu tahu apa yang dicari-cari Aliya.
Aliya berlari ke meja belajarnya. Dilihatnya ada sebuah kotak berwarna ungu. Kotak itu terlihat sangat tua. Aliya membuka kotak itu.
“Sepatu?” hanya itu yang Aliya katakan.

Cernak - Rahasia Parfum Bunga Ratu Isabel - Radar Bojonegoro



Rahasia Parfum Bunga Ratu Isabel

“Alice, kamu ingat, besok kita akan mendapatkan parfum bunga dari Ratu Isabel. Jadi mulai besok kita sudah bisa tumbuh wangi seperti bunga-bunga lainnya. Kumbang-kumbang akan datang menghampiri kita.” kata Eva kepada Alice senang.
“Tentu saja. Dan aku sudah tidak sabar lagi. Aku ingin menjadi yang paling wangi,” jawab Alice dengan percaya diri.
Setiap tanaman berbunga yang sudah berusia satu bulan akan mendapatkan hadiah parfum dari Ratu Isabel, ratu di negeri bunga. Alice, Eva, dan teman-temannya di Lembah Flowaphia akan merayakan satu bulan usia mereka besok.
Akan ada pesta perayaan, dan di puncak acara Ratu Isabel akan memberikan parfum kepada mereka. Alice dan Eva adalah satu keturunan bunga rose. Bukan rahasia lagi kalau nanti keturunan bunga rose-lah yang paling wangi diantara bunga-bunga lainnya.