Cernak Sepatu Kulit dari Ibu di Solopos




Kali ini saya akan posting cerita saya yang dimuat di Solopos kemarin, Minggu, 5 Maret 2017. Sebelumnya saya mau cerita sedikit, ya. Jadi cernak ini adalah cernak pertama saya di tahun 2017 yang dimuat. Sebelumnya saya pernah mengirimkan beberapa cernak dan dimuat, tapi itu sudah beberapa tahun lalu, 2013. Lama sekali ya saya mati suri dari menulis. Hihi Alhamdulillah akhirnya tergugah untuk menulis lagi. Masih dalam tahap belajar lagi, jadi sangat senang jika diberi kritik atau saran. Semoga posting kali ini dapat menginspirasi, menjadi ibadah, dan menjadi bacaan yang bermanfaat.
Oiya naskah saya ini saya kirimkan ke email penerbit Harian Solopos pada 21 Februari 2017. Kira-kira waktu tunggu hingga dimuat 2-3 minggu ya.
Selamat membaca.


Sepatu Kulit dari Ibu
Oleh : Maula Zahra


Dua hari yang lalu Ibu berkunjung ke rumah nenek. Aliya tidak bisa ikut karena hari itu harus sekolah.
Ibu akan pulang hari ini. Saat di sekolah, Aliya rasanya ingin cepat-cepat pulang. Semalam Ibu menelepon Aliya bahwa akan membawakan oleh-oleh. Aliya sudah tidak sabar.
Sesampainya di rumah Aliya segera memeluk Ibu. Ibu sedang membuat gethuk dari singkong yang dibawakan nenek.
“Oleh-oleh untukmu sudah Ibu letakkan di meja belajarmu, Al,” kata Ibu. Ibu selalu tahu apa yang dicari-cari Aliya.
Aliya berlari ke meja belajarnya. Dilihatnya ada sebuah kotak berwarna ungu. Kotak itu terlihat sangat tua. Aliya membuka kotak itu.
“Sepatu?” hanya itu yang Aliya katakan.
***
Setelah makan malam, Aliya hanya diam. Tidak ceria seperti biasanya. Aliya suka meminta Ibu menceritakan keadaan nenek dan kakek. Tapi malam itu ia hanya diam.
“Aliya tidak suka dengan sepatunya?” tiba-tiba Ayah bertanya pada Aliya. Ayah tahu Aliya sedang kecewa.
“Aliya suka, Yah” jawab Aliya. Ia melihat Ibu sedang memandangnya. Aliya tidak mau mengecewakan Ibu.
“Sepatu itu adalah sepatu Ibu waktu masih sekolah dulu, Al. Dengan sepatu kulit itu juga Ibu pernah memenangkan lomba menyanyi,” kata Ibu.
“Ibu belum bisa membelikan Aliya sepatu baru. Aliya pakai itu dulu, ya. Kemarin kakek memberikannya pada Ibu. Ternyata kakek masih menyimpan dan merawat sepatunya dengan baik. Agar bisa dipakai Aliya. Pasti sangat pas kalo Aliya pakai,” lanjut Ibu.
Aliya hanya mengangguk pelan.
***
Aliya tidak suka dengan sepatunya. Sepatu kulit itu. Tidak ada talinya. Tidak ada pita aksesoris di atasnya. Pasti teman-teman akan mengatakan bahwa sepatu butut itu kuno.
Sepekan kemarin Aliya punya alasan untuk tidak memakainya ke sekolah. Ia ingin memakai sepatu yang biasa ia pakai sampai sepekan agar bisa langsung dicuci.
Hari ini Aliya juga ingin memakai sepatu biasanya itu. Sayangnya sepatu itu kotor. Kemarin saat pelajaran olahraga dipakai untuk berlari di lapangan. Lapangan sekolah selalu berlumpur, apalagi musim hujan seperti ini.
Aliya mengenakan sepatunya dengan malas. Ibu melihat Aliya yang belum berangkat sekolah.
“Ada apa, Al? Belum selesai pakai sepatunya?” tanya Ibu yang baru saja datang dari membeli sayuran di Mak Parmi.
Aliya segera memakai sepatunya dan berpamitan pada Ibu.
***
“Al, coba lihat!” seru Ninis pada Aliya. Aliya malu dan takut diejek. Ia menyembunyikan kakinya di bawah bangku.
“Al, di mana kamu beli sepatu itu? Coba lihat! Sepatu kulit model bot sekarang banyak yang memakainya. Artis-artis di majalah juga,” jelas Ninis.
“Eh? Apa sepatu kulit ini bagus, Nis?” tanya Aliya.
“Tentu saja. Aku dan kakakku sangat menginginkannya. Kemarin kami dan Ibuku lihat di pasar tapi uang kami belum cukup untuk membeli. Jadi aku menabung. Agar bisa punya sepatu seperti milikmu,” kata Ninis. Ia terus bercerita sambil memandangi sepatu kulit dari Ibu yang Aliya pakai.
Jadi sepatu kulit kuno ini keren? Tiba-tiba Aliya tersenyum sendiri.
Aliya kini jadi rajin memakai sepatu kulit. Ia juga memakainya bergantian dengan sepatunya yang lama. Aliya rajin mengelap dan menyemir sepatunya. Aliya juga tidak membiarkan sepatu kulitnya terkena air. Supaya awet, begitu katanya.*

No comments:

Post a Comment